Ijazah Terakhir: Perjalanan Seorang Santri dari Kampung Menuju Gelar Doktor
Muhsyanur
3/30/20261 min read


Ijazah Terakhir: Perjalanan Seorang Santri dari Kampung Menuju Gelar Doktor
Penulis: Muhsyanur
ISBN:
Tebal: xviii + 64 hlm., 21 x 14 cm
Agustus 2019
Editor: Ayu Ferawaty
Penata Letak: Mahesa Firdiawan
Penata Sampul: Tiara Diharyantika
Penerbit
MITRA MANDIRI PERSADA
Jalan Ketintang Wiyata I No. 5
Gayungan 60231, Surabaya-Jawa Timur
Telp. 031-88061785, HP/WA 082260022285
Email: mmp_indonesia@yahoo.com
SINAPSIS:
Ia lahir di kampung kecil yang bahkan namanya asing di telinga banyak orang, Doping Lama, Wajo, Sulawesi Selatan. Tumbuh di keluarga sederhana, dibesarkan oleh seorang Bapak guru agama yang gaji bulanannya pas-pasan, namun kekayaan prinsipnya tak ternilai. Di usia yang masih belia, ia dipondokkan di Pesantren As'adiyah Sengkang, kota santri, tempat ia belajar bukan hanya ilmu agama, tapi ilmu yang jauh lebih dalam: ilmu hidup. Ia kuliah sambil mengajar di enam sekolah sekaligus. Ia menjadi imam masjid demi menutup biaya kuliah S2 di kota orang. Ia bersepeda ontel keliling Surabaya saat menempuh S3, menyusuri lorong-lorong Kota Pahlawan dengan ransel berisi buku-buku tebal dan mimpi yang lebih berat lagi. Ia pernah jatuh sakit sendirian di rumah sakit, jauh dari keluarga. Pernah nyaris berhenti. Tapi ia memilih bertahan karena ada wajah Bapak yang selalu hadir setiap kali ia ingin menyerah. Dan ketika hari paling bersejarah itu tiba, ketika toga disandarkan di bahunya, ketika namanya dipanggil sebagai Doktor, Bapak yang paling ia ingin persembahkan gelar itu sudah tiada. Pergi tiga hari sebelum kepulangannya.
Ijazah Terakhir bukan sekadar memoar perjalanan akademis. Ia adalah surat cinta yang terlambat sampai kepada seorang Bapak yang tidak sempat menerimanya secara fisik, tapi diyakini telah menerimanya dari tempat yang jauh lebih indah. Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana namun menggetarkan, buku ini adalah bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Bahwa dari kampung terpencil mana pun, cahaya itu bisa diraih selama kaki terus melangkah dan hati terus berdoa.
